Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.706 per Dolar AS Selasa Sore

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kedapatan bertengger di level Rp17.706 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (19/5) sore. Mata uang domestik tersebut tercatat mengalami pelemahan sebesar 38 poin atau setara dengan 0,22 persen jika disandingkan dengan posisi pada sesi perdagangan sebelumnya.

Penurunan performa rupiah ini terjadi secara simultan dengan sebagian besar mata uang di kawasan Asia yang turut berada di bawah tekanan greenback. Di pasar valuta asing regional, yuan China terpantau melemah 0,05 persen, peso Filipina terkoreksi 0,02 persen, serta ringgit Malaysia ikut terdepresiasi tipis sebesar 0,01 persen.

Tren negatif tersebut juga melanda dolar Singapura yang tergelincir 0,16 persen, yen Jepang yang terpangkas 0,16 persen, won Korea Selatan yang anjlok cukup dalam hingga 0,98 persen, serta dolar Hong Kong yang ikut melemah 0,02 persen.

Di kutub berbeda, pergerakan mata uang utama dari negara-negara maju terpantau kompak melemah di hadapan dolar AS. Euro Eropa mencatatkan penurunan sebesar 0,21 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,24 persen, dan dolar Australia melemah cukup signifikan hingga 0,66 persen. Sementara itu, dolar Kanada mengalami penurunan 0,12 persen dan franc Swiss ikut terdepresiasi 0,18 persen.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa melesunya performa mata uang Garuda kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal global serta faktor domestik yang masih memberikan tekanan pada pasar.

Menurut penjelasannya, pelaku pasar saat ini tengah memantau ketat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Hal ini menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memilih untuk menangguhkan rencana aksi militer terhadap Iran guna memprioritaskan jalur diplomasi dan negosiasi.

“Para investor cenderung mengambil sikap defensif dan berhati-hati sembari mengalkulasi bagaimana proyeksi arah kebijakan moneter The Fed ke depan di bawah nakhoda kepemimpinan yang baru,” jelas Ibrahim.

Dari sektor domestik, Ibrahim memberikan catatan khusus bahwa depresiasi rupiah yang terus berlanjut mulai memberikan sinyal bahaya terhadap stabilitas ketahanan pangan nasional. Kondisi ini dipicu oleh besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor berbagai komoditas pangan esensial.

“Situasi depresiasi rupiah ini secara otomatis mengerek biaya operasional impor mengingat mayoritas transaksi perdagangan internasional menggunakan denominasi dolar AS. Pada gilirannya, lonjakan biaya impor tersebut berisiko memicu inflasi atau kenaikan harga komoditas pangan di pasar domestik,” paparnya.

Menurut analisisnya, tekanan pada nilai tukar ini berpotensi besar merembet secara cepat ke sektor harga pangan olahan. Beberapa produk sensitif seperti mi instan, roti, tahu dan tempe, susu, hingga produk makanan olahan pabrikan lainnya diprediksi akan mengalami penyesuaian harga pada semester kedua tahun 2026.

Untuk proyeksi selanjutnya, ia memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak fluktuatif cenderung melemah pada sesi perdagangan esok hari, dengan estimasi pergerakan berada di kisaran rentang Rp17.700 sampai Rp17.750 per dolar AS.