Industri kelapa sawit nasional mengawali tahun 2026 dengan tantangan yang cukup berat. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan adanya penurunan menyeluruh pada sektor produksi, konsumsi domestik, hingga angka ekspor sepanjang Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Kelesuan ini dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari membengkaknya biaya logistik global hingga melemahnya permintaan dari negara-negara mitra dagang utama. Selain itu, hambatan dari sisi produksi di dalam negeri turut menekan stok minyak sawit nasional serta menggerus potensi devisa negara.
Penurunan Produksi yang Signifikan Mengacu pada data GAPKI yang dirilis Selasa (26/5/2026), produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Maret 2026 berada di angka 4,403 juta ton. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 12,22 persen jika dibandingkan dengan capaian Februari 2026 yang menyentuh 5,015 juta ton.
Tren serupa juga terjadi pada palm kernel oil (PKO) yang produksinya menyusut menjadi 418.000 ton. Secara akumulatif, total produksi CPO dan PKO pada Maret 2026 tercatat sebanyak 4,821 juta ton, turun 12,35 persen secara bulanan.
Lesunya Konsumsi Domestik Selain sisi hulu, pasar domestik juga menunjukkan pelemahan. Total konsumsi sawit dalam negeri pada Maret 2026 terpantau turun 8,25 persen menjadi 2,115 juta ton dibandingkan Februari. Penurunan ini merata di berbagai sektor strategis:
-
Sektor Pangan: Turun 9,03 persen menjadi 897.000 ton.
-
Sektor Biodiesel: Turun 7,71 persen menjadi 1,056 juta ton.
-
Sektor Oleokimia: Turun 7,43 persen menjadi 162.000 ton.
(Sebagai catatan, kondisi harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani juga tengah menjadi sorotan, dengan Wakil Menteri Pertanian saat ini tengah melakukan identifikasi terhadap 139 pabrik terkait masalah tersebut).
Tekanan ini tidak hanya berhenti di pasar dalam negeri, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor yang semakin terhimpit.

Ekspor Sawit RI Terpukul pada Maret 2026: Volume dan Nilai Turun Signifikan
Kinerja ekspor produk kelapa sawit Indonesia mengalami tekanan hebat pada Maret 2026. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan total volume ekspor terjun bebas sebesar 34,25 persen menjadi 2,168 juta ton, dibandingkan capaian Februari 2026 yang sebesar 3,297 juta ton.
Penurunan Merata di Berbagai Segmen Hampir seluruh lini produk sawit mencatat penurunan volume ekspor:
-
CPO: Anjlok drastis 75,61 persen menjadi hanya 96.000 ton.
-
Olahan Minyak Sawit: Turun 33,57 persen menjadi 1,506 juta ton.
-
Olahan Minyak Inti Sawit: Menyusut 44,67 persen menjadi 94.000 ton.
Satu-satunya anomali positif datang dari produk oleokimia, yang masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,42 persen menjadi 468.000 ton. Akibat pelemahan volume ini, nilai ekspor sawit nasional ikut tergerus menjadi 2,61 miliar dolar AS, atau turun 29,27 persen secara bulanan.
Dominasi Pasar yang Melemah Penurunan permintaan terjadi hampir di semua pasar utama Indonesia. China dan India menjadi negara dengan penurunan volume impor terbesar, masing-masing berkurang 314.000 ton dan 291.000 ton. Penurunan juga terlihat di pasar Pakistan, Bangladesh, kawasan Afrika, Timur Tengah, Malaysia, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa. Menariknya, di tengah tren ini, ekspor ke Rusia justru menunjukkan peningkatan sebesar 24.000 ton.
Masalah Utama: Lonjakan Biaya Logistik Global Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyoroti bahwa biang kerok dari penurunan ini adalah membengkaknya biaya pengiriman (freight) dan asuransi global—yang meningkat hingga 50 persen akibat ketegangan geopolitik. Hal ini membuat harga minyak sawit Indonesia kehilangan daya saing dibandingkan minyak nabati alternatif lainnya di pasar internasional.
Paradoks Stok dan Kinerja Kuartalan Meski ekspor dan konsumsi domestik melemah, stok minyak sawit nasional justru melonjak menjadi 2,568 juta ton pada akhir Maret 2026 (naik dari 2,026 juta ton pada Februari), karena penurunan penyerapan pasar yang lebih dalam dibanding penurunan produksi.
Namun, jika dilihat secara year-on-year (yoy) untuk periode Januari–Maret 2026, sektor sawit masih menunjukkan pertumbuhan:
-
Produksi: Kumulatif CPO dan PKO mencapai 15,558 juta ton (naik 18,44 persen).
-
Nilai Ekspor: Mencapai 9,66 miliar dolar AS (naik 10,40 persen) didorong oleh kenaikan rata-rata harga CPO global menjadi 1.356 dolar AS per ton CIF Rotterdam.
Tantangan Masa Depan Industri sawit nasional kini berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Di sisi domestik, wacana kenaikan pungutan ekspor seiring rencana implementasi mandatori biodiesel B50 pada 2026 menjadi perhatian. Sementara itu, di pasar global, perlambatan permintaan dari Eropa serta volatilitas biaya transportasi diprediksi masih akan menjadi tantangan utama yang harus dihadapi sepanjang sisa tahun ini.