Hadapi Tantangan Bisnis, Volkswagen Pertimbangkan PHK 100.000 Karyawan

Produsen otomotif raksasa asal Eropa, Volkswagen, dikabarkan tengah menyiapkan langkah efisiensi drastis melalui pengurangan tenaga kerja. Berdasarkan memo internal yang dilansir oleh AFP pada Selasa (14/7/2026), perusahaan mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 50.000 karyawan tambahan. Langkah ini merupakan kelanjutan dari program perampingan sebelumnya yang sudah mencapai 50.000 pekerja, termasuk kesepakatan pengurangan 35.000 tenaga kerja pada merek inti Volkswagen yang telah disepakati bersama serikat pekerja sejak tahun 2024. Jika terealisasi, total pengurangan karyawan VW akan menyentuh angka 100.000 orang.

Potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 100.000 orang di Volkswagen (VW) diprediksi akan menjadi restrukturisasi paling masif dalam sejarah otomotif dunia, melampaui rekor General Motors (GM) saat bangkrut pada 2009.

Ironisnya, kabar ini berhembus tak lama setelah CEO VW, Oliver Blume, menegaskan bahwa penutupan pabrik bukanlah strategi utama perusahaan. Di tengah tekanan tarif impor AS, margin EV yang menipis, dan penetrasi produk China di Eropa, Blume justru menekankan perlunya efisiensi operasional. Mengingat biaya operasional VW 20% lebih tinggi dari kompetitor, Blume mengisyaratkan perlunya pemangkasan biaya tenaga kerja guna menjaga keberlangsungan perusahaan yang menaungi merek Audi, Porsche, dan SEAT ini. Saat ini, masa depan empat pabrik utama VW di Jerman (Emden, Hanover, Zwickau, dan Neckarsulm) pun berada dalam posisi yang genting.

Ketegangan di internal Volkswagen semakin memuncak seiring kritik keras dari serikat pekerja terhadap manajemen dan CEO Oliver Blume. Serikat pekerja menyayangkan bocornya rencana PHK massal ke publik sebelum adanya komunikasi resmi kepada karyawan. Mereka mendesak agar Blume segera memberikan klarifikasi terbuka terkait isu ini. Menanggapi hal tersebut, Blume menyatakan rasa terganggunya atas kebocoran informasi yang dinilai di luar kendali dan menegaskan bahwa penyebaran berita tersebut bukan merupakan bagian dari strategi komunikasi perusahaan.

Banyak analis industri memandang bahwa angka 100.000 PHK yang mencuat ke publik kemungkinan hanyalah taktik negosiasi Volkswagen, di mana realisasi akhirnya diprediksi akan jauh lebih rendah. Volkswagen tidak berdiri sendiri dalam menghadapi badai ekonomi ini; kompetitornya sesama raksasa Jerman, BMW dan Mercedes-Benz, juga mencatatkan penurunan laba. Tekanan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya dominasi mereka di pasar China—pasar otomotif terbesar dunia—akibat persaingan yang kian sengit dengan produsen lokal di sana.