Rupiah Diramal Melemah hingga Rp18.300/USD pada Pekan Depan

Pergerakan mata uang Garuda diprediksi masih berada dalam tren negatif akibat deretan rilis data ekonomi domestik dalam waktu dekat. Ibrahim Assuaibi, selaku pengamat komoditas dan mata uang, menyoroti potensi defisit pada neraca perdagangan Juni 2026 yang dapat menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah. “Pasar akan melihat banyak data yang akan dirilis di Indonesia, terutama neraca perdagangan yang kemungkinan besar pada Juni akan mengalami defisit. Hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan,” ungkap Ibrahim pada Minggu (2/8/2026).

Di sisi lain, tingkat inflasi Indonesia diprediksi mengalami pelusuran menyusul penurunan harga sejumlah komoditas berkat intervensi pasar oleh pemerintah. Ibrahim memperkirakan angka inflasi akan berada di kisaran di bawah 3,34 persen.

Selain inflasi, pasar turut memantau data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia. Ibrahim menilai indeks tersebut masih berada di bawah level 50 (zona kontraksi), meskipun ada perbaikan dibanding posisi sebelumnya di angka 46,9. Kondisi ini mencerminkan sektor industri manufaktur yang belum bangkit sepenuhnya serta berdampak langsung pada pasar tenaga kerja. “PMI manufaktur kemungkinan masih terkontraksi di bawah 50. Walaupun pada Juli diperkirakan berada di atas 46,9, tetapi masih menunjukkan kontraksi. Ini mengindikasikan kondisi tenaga kerja masih melemah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor,” jelasnya.

Tidak hanya rupiah dan sektor manufaktur, cadangan devisa Indonesia juga diproyeksikan merosot dari posisi Juni 2026 yang sebelumnya tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS. Penurunan ini menyebabkan ketahanan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri berada di kisaran 4,9 bulan.

“Artinya, posisi tersebut masih berada di bawah standar yang umumnya digunakan untuk negara dengan peringkat utang BBB, yaitu sekitar lima bulan cadangan devisa,” jelas Ibrahim.

Di samping itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) diprediksi kembali melanjutkan tren pelemahannya pada Juli 2026. Penurunan IKK ini telah terlihat sejak awal tahun, di mana indeks turun dari level 129 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, dan diperkirakan kian merosot ke angka 116,6 pada Juli ini. Seluruh rangkaian data ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) tersebut dipastikan menjadi penentu utama arah gerak rupiah pekan depan. “Data-data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah,” pungkasnya.